• [Terbaru] Menikmati Jakarta dengan Traveloka Xperience Klik Disini

Sunday, 20 October 2019

Sebuah Cerita dari Bukit Kerbau



Sebelum ini begitu sedikit hal yang saya tahu tentang Garut. Sebagai orang daerah yang lahir dan besar di Sulawesi, lumayan jarang informasi mengenai kabupaten ini yang sampai ke saya. Saya hanya mengenal Garut sebatas nama sebuah daerah di Pulau Jawa, tidak mengetahui dengan persis dimana lokasinya dan apa-apa saja yang menarik di kabupaten ini. Setidaknya ini hingga seseorang mengajak saya kesana, menikmati pergantian tahun di suatu tempat yang begitu meninggalkan kesan hingga kini.

Di tahun 2017 dari Makassar saya merantau ke Jakarta, salah satu instansi pemberi beasiswa memberikan saya beasiswa untuk melanjutkan pendidikan magister di Pulau Jawa. Sebelum mulai kuliah kami diberikan pelatihan selama kurang lebih 6 bulan yang berlangsung dari akhir 2017 hingga 2018. Di akhir tahun waktu itu saya mendapatkan libur yang lumayan banyak, sehingga menurut saya menarik kiranya bila saya sejenak kabur dari Jakarta untuk melihat daerah-daerah lain di pulau ini.

Gayung bersambut, seorang teman yang telah lama tinggal di Jakarta mengajak saya untuk berlibur ke Garut, bukan sekedar liburan biasa tapi kami akan berkemah di sebuah bukit menyambut pergantian tahun disana. Sebelumnya ia (teman saya) telah beberapa kali ke Garut, terakhir saat mendaki Gunung Papandayan yang merupakan salah satu gunung yang wajib didatangi bagi para pendaki gunung di Pulau Jawa. Baginya Garut memiliki daya tarik tersendiri.

Garut sendiri merupakan salah satu kabupaten yang terletak di provinsi jawa barat dengan ibukotanya Tarogong Kidul. Nah apa yang begitu menarik dari kabupaten ini adalah bentang alamnya yang dapat memukau setiap mata. Di Garut kita akan menemukan berbagai macam keajaiban alam, mulai dari pegunungan, bukit, air terjun, danau, kawah, pantai, dan lain sebagainya. Bagi banyak pendaki, Garut merupakan salah satu wilayah yang spesial, karena di kabupaten inilah terdapat gunung-gunung yang menjulang tinggi dan menjadi favorit banyak pendaki., seperti Gunung Papandayan (2.622 Mdpl), Gunung Guntur (2.249 Mdpl), Gunung Karacak (1.838 Mdpl) , hingga Gunung Cikuray (2.821 Mdpl).
Adapun tujuan kami ke Garut disini adalah sebuah bukit yang sangat indah yang bernama Buffalo Hill (Tegal Munding). Buffalo Hill ini seperti namanya merupakan hamparan rumput hijau di dataran tinggi yang menjadi tempat bersantai dan cari makan para kerbau. Saat ini sepertinya tidak banyak lagi kerbau di Buffalo Hill, karena saat kami disana, kami hanya menemukan beberapa. Kami putuskan ke Buffalo Hill atas beberapa cerita pengalaman menarik dari beberapa artikel yang kami baca di internet. Gambaran lokasi dan beberapa spot foto yang terlihat menarik dari artikel-artikel itu berhasil membawa kami menjauh hampir enam jam dari ibu kota.



Minggu, 31 Desember 2017, sekitar Pukul 07:30 pagi dengan bus dari Jakarta saya dan dua teman bertolak menuju Terminal Guntur di Garut. Tidak banyak yang saya dapat cerita selama perjalanan menuju Terminal Guntur ini, karena selama perjalanan kami gunakan lebih banyak beristirahat. Tiba di Terminal Guntur, kami kemudian sholat dzuhur, makan siang di rumah makan di salah satu sudut terminal dan berangkat menuju destinasi Pos Pendakian Buffalo Hill. Disini kami sempat menemukan masalah, kami tidak tahu dengan menggunakan apa kami akan ke pos pendakian itu?.

Awalnya untuk menuju Pos Pendakian Buffalo Hill, kami mencoba menggunakan transportasi mobil online untuk mengangkut kami, sayangnya setelah setengah jam menunggu, pesanan kami tidak satupun yang merespon, olehnya kami beralih menggunakan ojek online dan berangkat terpisah. Disini kami mulai menemui beberapa persoalan. Ojek yang mengantar saya sempat tersesat sehingga butuh waktu lebih lama untuk sampai ke tujuan, satu ojek lain yang membawa teman saya tidak dapat mendaki jalanan yang terjal sehingga harus berjalan kaki, sedang ojek sisanya ternyata dengan lancar telah sampai di lokasi.


Saat tiba di pos pendakian akhirnya saya paham mengapa transportasi mobil online tidak ada yang berkenan mengangkut kami, hal ini karena medan menuju lokasi yang perlu melewati jalan sempit, berbatu, bahkan menanjak, sehingga tidak cocok untuk kendaraan roda empat. Namun bagi saya, inilah hal pertama yang membuat perjalanan kali itu begitu menarik, saya menikmati setiap tempat yang kami lewati. Setelah tiap hari disesaki oleh hingar bingar kehidupan Jakarta, di Garut saya serasa di kampung halaman sendiri.

Untuk masuk ke Buffalo Hill, di pos pendakian kita perlu membeli tiket masuk sebesar 15 ribu, yang mana dana ini digunakan untuk memperbaiki akses masuk, perawatan lokasi, dan dana darurat bila alih-alih terjadi hal yang tidak diinginkan terhadap para pengunjung. Di pos pendakian itu kami disambut dengan sangat ramah oleh beberapa petugas yang terlihat masih sangat muda, kami diarahkan untuk menulis nama, asal atau tempat tinggal, nomor telpon yang dapat dihubungi dalam sebuah buku pengunjung.

Trek menanjak menuju Buffalo Hill di tengah lahan pertanian warga (Dokumentasi Pribadi)

Setelah selesai dari pos pendakian, kami kemudian berangkat menuju Buffalo Hill. Di perjalanan menuju Buffalo Hill kami dihadapkan jalanan yang begitu menanjak dengan kemiringan rata-rata sekitar 35 derajat, lumayan menguras tenaga namun terbayarkan karena pemandangan sepanjang jalan yang mengesankan. Selama perjalanan terlihat hamparan kebun warga yang tersusun rapi meski berada di tepi perbukitan yang tidak rata. Di wilayah ini tertanami sayur mayur seperti kol, cabai, tomat hingga kentang. Sepertinya bertani merupakan mata pencaharian yang umum bagi warga sekitar Buffalo Hill. Saya mengapresiasi tidak hanya bagaimana para petani disini menggarap lahan yang sangat miring di tepi bukit tetapi juga betapa kuatnya mereka tiap hari berjalan menanjak untuk bertani.


Disambut oleh hijaunya rumput di Buffalo Hill (Dokumentasi Pribadi)

Sekitar tiga jam berjalan melewati jalan yang terus menanjak, kami akhirnya tiba di Buffalo Hill. Sesaat setelah sampai saya begitu kagum dengan keindahan Buffalo Hill ini. Hamparan rumput hijau, udara yang sangat sejuk, pemandangan Gunung Cikuray yang terlihat sangat jelas dari Buffalo Hill telah membuat kami jatuh cinta dengan tempat ini. Buffalo Hill merupakan tempat yang sangat tepat untuk berkemah karena disini kita dapat menikmati alam yang masih sangat asri, disaat malam hari kita bisa melihat lampu-lampu jalanan, cahaya lampu rumah-rumah Kota Garut dari ketinggian, dan khusus untuk malam tahun baru kita juga dapat menyaksikan ratusan kembang api yang menyala beriringan di langit Kabupaten Garut.

Saat tiba di Buffalo Hill kami mencari lokasi yang tepat untuk mendirikan tenda, saya memilih tempat dimana kami bisa melihat Gunung Cikuray lebih jelas. Saat perjalanan menanjak kami menuju Buffalo Hill begitu sulit untuk fokus terhadap jalur pendakian, karena gunung ini seakan terus merayu kami untuk berbalik badan dan menatap keindahannya. 

Pemandangan Gunung Cikuray dari Buffalo Hill (Dokumentasi Pribadi)

Setelah tenda dibangun, sambil merapikan barang-barang kami dan memasukkannya kedalam tenda, kami juga mengumpulkan kayu bakar yang akan kami gunakan untuk menghangatkan diri di malam harinya. Di Buffalo Hill, kami sebenarnya juga ditemani puluhan tenda lain karena lokasi wisata ini memang di tiap hari libur sering dipenuhi para pengunjung. Menjelang malam di Buffalo Hill, suasana lokasi wisata ini terlihat lebih indah lagi.

Tiba malam hari saat pengunjung lainnya menyalakan kayu bakar di depan tenda masing-masing, kami lebih banyak mengurung diri dalam tenda karena kedinginan. Tumpukan kayu bakar yang telah kami kumpul akhirnya tidak kami nyalakan, sempat terpikir untuk diberikan saja ke rekan pengunjung yang lain namun niat ini sudah lebih dulu menciut karena suhu Buffalo Hill yang teramat dingin. Jadi bagi teman-teman yang suatu saat juga ingin ke Buffalo Hill, siapkanlah pakaian, jaket, selimut, sleeping bag yang tebal agar anda tetap merasa hangat disana.

Beberapa menit sebelum jam 12 malam, rentetan kembang api mulai terlihat menyala di langit Garut hingga mencapai puncaknya di pukul 12. Sungguh suatu pemandangan malam yang begitu indah, melihat masyarakat Garut begitu bersuka cita menyambut tahun baru. Beberapa rekan pengunjung Buffalo Hill kompak menghitung mundur di detik-detik menjelang tahun baru, sedang beberapa yang lainnya juga turut menyalakan kembang api, sehingga menambah keseruan di malam itu. Suatu momen yang membuat saya selalu terkenang dengan Garut.


Sunrise dari balik Gunung Cikuray (Dokumentasi Pribadi)

Esoknya pukul 5 pagi suara hingar bingar pengunjung Buffalo Hill secara tidak langsung membangunkan kami, ini karena mereka ingin menyaksikan sunrise pertama di 2018. Pengunjung lain disana mengatakan bahwa matahari akan muncul dari balik Gunung Cikuray, betapa penasarannya saya untuk menyaksikan keindahan sunrise ini dengan eksotisme Gunung Cikuray yang menjulang tinggi itu. Saat itu saya jadi teringat ketika melihat beberapa cahaya dari puncak Gunung Cikuray di malam sebelumnya yang dinyalakan para pendaki disana, orang-orang yang berada di Puncak Gunung Cikuray itu sepertinya lebih dulu menyaksikan sunrise pertama di 2018

Saat fajar menyapa di Buffalo Hill (Dokumentasi Pribadi)

Pukul 8 Pagi saat suhu Buffalo Hill mulai beralih dari dingin menjadi hangat, kami kemudian mulai beres-beres untuk pulang, sebelum pulang kami merencanakan untuk jalan-jalan ke air terjun (curug) di dekat Buffalo Hill. Tidak satupun dari kami yang mengetahui dimana lokasi curug ini, olehnya kami berinisiatif untuk menanyakan ini pada sekumpulan anak yang sedang bermain-main disana. Anak-anak ini dengan begitu sopan kemudian menjawab dalam Bahasa Sunda yang kurang lebih maksudnya mereka akan menemani kami menuju curug di Buffalo Hill.

Lokasi curug dengan lokasi kami mendirikan tenda tidaklah begitu jauh, meski tadinya saya berfikir bila kami perlu lagi mendaki bukit yang jauh untuk menuju kesana. Curug ini berlokasi di tepian Buffalo Hill. Air terjun ini juga begitu segar dan jernih dan banyak digunakan warga sekitar untuk pengairan kebun sayur mayur mereka. Bagi anda yang ingin ke curug ini agar hati-hati, karena jalanan yang dilintasi begitu curam, sempit, dan berair, sehingga kita perlu kewaspadaan ekstra. Mengakhiri liburan kami disana, selepas dari curug kami kemudian turun menuruni bukit lalu kembali pulang ke Jakarta melalui Terminal Guntur.


Sejak saat itu saya menjadi lebih kenal dengan Kabupaten Garut, apa-apa saja yang menarik dari kabupaten ini, cara buat kesana, dan berbagai hal penting lain. Buffalo Hill menjadi pengantar saya mengenal Garut, keindahan, keramahan, keajaiban, dan keseruan yang ditawarkannya. Saya ingin menjelajahi kabupaten ini lebih jauh lagi, olehnya kedepan ada satu rencana lain saya di Garut yakni mendaki menuju puncak Gunung Cikuray. Jika sebelumnya saya hanya bisa melihat keindahannya dari Buffalo Hill. Kini saya ingin merasakan dan melihat sendiri dari dekat. Gunung Cikuray sendiri mempunyai ketinggian 2.821 meter di atas permukaan laut dan merupakan gunung tertinggi keempat di Jawa Barat setelah Gunung Ciremai, Gunung Pangrango dan Gunung Gede.


Referensi:
1. https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Garut
2. https://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Cikuray


Artikel ini diikutsertakan dalam Writingthon Jelajah Kota Garut yang diselenggarakan oleh Bitread Digital Publishing



Comments
3 Comments

3 comments:

  1. Replies
    1. yuk yuk mas bai... kalau menang kita ke garut. :D

      Delete
  2. aku lagi di garut tapi gak tau tempat²nya ... eh setelah baca blog ini jd tau ....makasi win :)

    ReplyDelete

Orang baik meninggalkan pesan